Perpisahan adalah sebuah peristiwa yang menyedihkan. Di mana, kita dilepaskan dari suatu ikatan yang telah kita jalani, entah itu dalam waktu lama atau pun sebentar. Tetap saja nama dari sebuah perpisahan itu menyakitkan. Perpisahan berarti kita tidak bertemu lagi dengan orang-orang yang kita sayangi, dalam waktu tertentu. Apalagi perpisahan itu sama sekali tidak kita inginkan. Itulah yang aku rasakan saat ini.
Sudah setengah jam aku berdiri di sini, menghadap gedung sekolah yang selama tiga tahun menjadi tempatku mencari ilmu. Gedung SMA Hoshi di sebuah lokasi yang cukup jauh dari jalan raya―jalan pantura. Ku pandangi setiap sudut bangunan megah berlantai tiga itu. Masih sama seperti pertama kali aku diterima sebagai siswi SMA Hoshi, hanya ada sedikit renovasi. Tadi pagi semua siswa-siswi SMA Hoshi mengambil ijazah, termasuk aku. Kini Ijazah sudah ku taruh dalam tas. Tapi, entah mengapa aku enggan untuk beranjak dari sekolah ini, setidaknya aku ingin lebih lama memandang gedung di hadapanku, di sinilah aku mengukir sejarah indah, persahabatan, kekeluargaan sampai romantika. Semuanya ku alami di sini.
Seperti saat ini, aku berdiri di bawah pohon menghadap SMA Hoshi sama seperti pertama kali kulihat gedung ini, dihari pertama aku terima menjadi siswi SMA Hoshi yang sebelumnya sama sekali tidak aku inginkan. batinku.
“Queen, lo belum pulang!” sebuah suara terdengar dari sisi kananku, kontan aku menoleh. Ternyata Kikan, temanku waktu kelas X dan XII, karena kelas XI kamis pisah. Dia membawa beberapa berkas yang aku sudah dapat menebaknya. Itu pasti persyaratan masuk perguruan tinggi negeri. Aku sendiri tidak langsung melanjutkan ke perguruna tinggi dulu, aku ingin mencari keja sampingan sebelum menjadi mahasiswi.
“Belum, Kan.” Jawabku singkat sembari mengembangkan senyum dibibir tipisku.
“Ngapain?”
“Hmmm, gue pengen mandangin SMA Hoshi lebih lama lagi.” Jawabku sekenanya, Kikan nyengir lalu ikut berdiri di sampingku.
“Hmmm, lo masih pengen jadi anak SMA Queen, gue sih ogah.”
“Enak aja lo. Hmmm…gue cuma ngerasa berat aja, tiga tahun gue ngukir kenangan gue di SMA ini. Dan yang paling berat, kalau sudah beranjak pergi dari gedung ini, berarti kita pisah dengan teman-teman yang selama ini temani hari kita.” Aku klise banget jadinya. Kikan menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan. Cewek di sampingku ini termasuk cewek yang populer di SMA Hoshi.
“Gue juga sama sih Queen, masa SMA memang masa-masa yang menyenangkan. Masa di mana kedewasaan kita harus dikembangkan dengan baik. Persahabatan, permusuhan sampai percintaan dalam tiga tahun ini semua itu kita rasakan, gue sama sekali nggak bisa lupainnya Queen.” Kikan jadi ikut-ikutan klise. Aku mengangguk, menyetujui pernytaannya.
“Tapi…” Kikan masih memandang gedung di depannya. “Di luar sana, masih banyak tantangan hidup yang harus kita jalani. Hidup yang lebih menatang, bukankah itu suatu hal yang harus kita pilih?” dia menatapku. Aku pun tersenyum. Dia benar, masa SMA bukan masa-masa yang terakhir, tapi menjadi masa awal di mana, kita dapat memantapkan tujuan hidup kita. Merasakan bagaimana menjadi mahasiswa dan mahasiswi di perguruan tinggi sesuai dengan keinginan masing-masing individu.
“Queen, gue pulang yah, soalnya masih banyak kerjaan yang harus gue urus.” Kikan pamit. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sebelum ia melangkah pergi, ia mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“Gue tahu, apa yang lo tunggu sampai saat ini?” bisiknya di telingaku. Aku masih tak bereaksi apa-apa. Lalu dia melanjutkan kata-katanya. “Sebuah kepastian, bukan?” deg! Jantungku berdegup kencang. setelah membisikan itu Kikan langsung beranjak pergi meninggalkanku. Dia melangkah dengan riangnya, sedangkan aku masih tertegun. Kepastian? Ulangku dalam hati.
Ok, setengah jam lebih aku berdiri di sini dengan alasan ingin memandang SMA Hoshi lebih lama lagi, tapi aku sendiri merasa ada sesuatu yang aku tunggu, sesuatu yang menjadikan aku lebih lama untuk berdiri di sini. Kepastian? Yah, Kikan benar. Sebuah kepastian yang aku tunggu. Kepastian dari cerita cinta yang aku jalani beberapa bulan yang lalu. Aku hanya ingin memastikan, bagaimana perasaanku sampai saat ini, bagaimana perasaannya sampai saat ini. Dan―aku ingin meminta maaf― apa itu salah?
Ku eratkan cengkramanku pada gagang tasku. Ku butuhkan lima detik untuk menatap gedung SMA Hoshi sebelum aku memejamkan kedua mataku. 1, 2, 3, 4, 5 dan mataku terpejam, mengingat kembali masa-masa itu, memutar piringan hitam dalam memory otakku tentang semua cerita cintaku.
Toko utama dalam piringan hitam yang tengah kuputar dalam otakku adalah seorang cowok bernama Lihan. Cowok yang kurang lebih tujuh bulan menjadi pangeran dalam hidupku, yang selalu menghiasi hariku di sekolah. Fine, aku akui he is the best. Jago dalam segala bidang, aku beruntung mempunyai dia, memiliki dia, dan mencintai dia. Namun, pada detik-detik waktu menginjak masa jadian delapan bulan, sesuatu terjadi pada kita berdua, menjadikan aku dan dia harus berpisah.
“Han, jujurlah, aku hanya menginginkan kamu bahagia. Apa gunanya hubungan ini kita lanjutkan, jika rasa kamu sudah hilang. Buat apa dipertahankan jika kau tidak bahagia denganku.” Itu kata-kata yang aku ucapkan ketika senja menjelang. Kami bertemu di sebuah pantai, sembari menungu sunset. Kata-kata itu sebenarnya tidak ingin aku katakan, tapi dengan berat hati aku harus mengatakannya, demi dia, demi kebahagiaannya.
Saat itu aku sama sekali tidak bisa membaca ekspresi apa yang Lihan berikan. Satu hal yang sedikit aku baca, dia bingung. Matanya berbicara seperti itu. “Kenapa kamu bicara seperti itu?” tanyanya pelan, sangat pelan, membuat aku tak berkutik. Aku juga tak ingin mengatakan ini Han…batinku saat itu. Dengan kepala dingin, aku menjelaskan semuanya. Sedangkan Lihan hanya terdiam, ia bungkam. Aku tak tahu kenapa dia seperti itu. Sudah hampir satu bulan kurasakan sesuatu yang beda pada diri Lihan,dan aku tahu itu. Makanya dengan berat hati aku jelaskan semuanya. Dan pada akhirnya ia juga mengakui bahwa sayangnya tidak seperti dulu.
Sampai kapan pun aku tidak akan mengatakan pisah padamu, Han. Gumamku menatap ombak yang menepi. Karena itu janjiku, aku ingin Lihan yang memulainya. Akhirnya kata pisah keluar dari mulut Lihan. Sakit. Tentu saja. Aku memang yang memaksanya, namun ini terlalu berat untukku.
$26nbsp; “Queen, kita masih bisa berteman baik bukan?” tanyanya menatapku, aku tak membalas tatapannya. Saat ini aku berusaha menyembunyikan butiran bening yang sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku mengangguk, hanya anggukan kecil.
“Pasti!” jawabku. Aku tahu saat itu suaraku bergetar. Aku terus memandang deburan ombak, bahkan aku tak berani melihat sunset yang sebentar lagi akan hilang, kembali keperaduannya. Tuhan, ini berat, sangat berat. Melepaskan seseorang disaat kita sangat menyayanginya. Perpisahan yang sangat menyakitkan.
“Queen…” panggil Lihan, saat ini ia sedang memandang sunset.
“Ya…”
“Sebenarnya kamu tidak menginginkan ini kan?” tanyanya. Aku tak menjawab, ku gigit bibir bawahku agar tangisku tak pecah. Beberapa detik kemudian, ku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Pandanganku saat itu sudah terhalang oleh butiran bening yang menggenang di pelupuk mataku.
“Walau pun ini berat untuk aku, tapi aku ingin melihat kamu bahagia Han, meski pun tidak bersamaku. Jika kau tidak lagi cinta, jangan kau paksa.” Kataku. Sama sekali tidak menatap Lihan. Aku tahu saat itu juga mata Liha sudah merah. Sedangkan aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan genangan airmataku.
Dalam hitungan detik Lihan berhasil merengkuhku, mendekapku dalam dada bidangnya, membiarkan tangisku tumpah, membiarkan menit-menit terakhir sunset menghilang, dan membiarkan perpisahan ini di saksikan oleh sunset yang mungkin akan menjadi sunset terakhir yang aku dan Lihan saksikan.
“Queen, maafin aku.” Katanya juga dengan suara yang bergetar.
“Han…” lirihku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia semakin mendekapku erat. Dan sunsetpun hilang tergantikan dengan malam.
Namun, sangat aku sesali itulah terakhir kali aku berbicara dengannya. Selanjutnya Lihan sama sekali tidak menegurku. Dia sudah seperti orang lain, mungkin aku juga sama. Kami berdua tidak ada yang mau memulai untuk menjadi sebuah simbolis yaitu ― pertemanan.
Ku rasakan wajahku lembab, menangis. Segera kubuka mataku dan kembali melihat gedung SMA Hoshi. Han…aku…aku…huh! Kenapa aku jadi cengeng gini, setiap mengingat Lihan. Gerutuku. Ku hapus airmataku dengan sapu tangan yang selalu kubawa, sapu tangan dari Lihan.
Kulirik jam di pergelangan tanganku, tak terasa satu jam lebih aku berdiri di sini, sekali lagi ku pandang SMA Hoshi, dan kembali kupejamkan kedua mataku. Kalau hari ini aku tidak mendapat kepastian dari Lihan, setidaknya aku menyadari kalau rasa cintaku padanya tidak pernah hilang. Pasti suatu saat aku temukan kepastian dari Lihan. Gumamku.
“Ngapain lo mejemin mata, Queen. Kurang kerjaan tahu nggak.” Suara seseorang yang―sangat ku kenal. Sungguh, aku pikir ini adalah imajiku yang menginginkan dia hadir sekarang ini. Saat aku membuka mata, pasti pemilik suara itu tidak pernah ada.
“Ih! Lo yah, Queen. Mau berapa lama lo di sini, lo udah satu jam lebih kan berdiri di bawah pohon. Lo tahu kan kalau itu pohon….” Suara itu tak melanjutkan kata-katanya. “Angker.” Aku ingat, Hanya dia yang mengatakan kalau pohon ini angker. Lihan. Perlahan kubuka kedua mataku. Kaget, tak percaya, Lihan berdiri tepat di depanku, memasang wajah manis berserta senyum khasnya yang sayu.
“Han…” lirihku. Dia malah tersenyum lebar. Kemudian dia mengambil tempat berdiri di sampingku. Entah perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Aku sendiri bingung. Sekian detik tidak ada yang berbicara, aku sibuk dengan pikiranku, Lihan sibuk dengan pikirannya. Fine, ini adalah kali pertama aku berada di samping Lihan selama aku pisah dengannya, tujuh bulan yang lalu.
“Queen…” lirihnya.
“Ya…”
“Will you be my friendship?” tanyanya lalu menatapku lekat. Ku tarik nafasku lebih panjang dari biasanya, dengan mengembangkan senyum dibibir tipisku, aku katakan.
“Yes, I will.” Dan Lihan pun tersenyum, kemudian kami berdua mengaitkan jari kelingking masing-masing. Kurasa inilah kepastian yang Lihan berikan padaku. Teman. Yah, sekarang dia menjadi temanku. Meski masih ada cinta dihatiku.
Selesai
(copy from facebook,, jingga matahari senja facebook group)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar